Perjalanan Air

 

Jadi begini, ada yang ingin aku ceritakan.

Cerita tentang air

Tentang air yang bertugas mematikan api, tentang air juga yang berperan memberi penghidupan.

Mengalir ia dari hulu ke hilir. Dalam perjalanannya menuju hilir, ia bertemu banyak hal, ia melihat berbagai kejadian, ia mengubah sesuatu, ia menjadi berbeda.

Dari hulu, air adalah hal yang murni dan baik. Ia pemberi penghidupan. Di perjalanannya, air bertemu batu. Air menyapa batu. Kemudian batu menjadi pecah. Batu marah, batu menyalahkan air. Padahal air hanya menyapa, air hanya berusaha ramah. Batu tidak mau mengerti kalau air adalah air. Air yang sedang melakukan perjalanan.

Menuju hilir, air bertemu manusia. Oleh manusia, ia diberi buah tangan. Buah tangan yang banyak dan beragam. Karena air adalah murni dan baik, ia menerima semua pemberian manusia, pemberian yang banyak dan beragam. Terlalu banyak hingga air menjadi berat, terlalu beragam hingga air menjadi bernoda. Namun air adalah air. Air yang sedang melakukan perjalanan.

Sampailah air di laut. Ia mengira, laut adalah akhir dari perjalannya. Air berpikir ia telah selesai dan sampai. Namun tidak, belum. Laut bukan akhir, air belum sampai. Bertemu air dengan mineral, yang menjadikannya asin dan lengket. Air menjadi berubah, air tidak suka menjadi berbeda. Air hanya ingin menjadi air. Air yang sedang melakukan perjalanan.

Dibisiki air oleh angin, “jika kau ingin menjadi air yang murni dan baik, jadilah hujan.”

Bertanya air, “bagaimana menjadi hujan?”

Kata angin “naiklah ke langit, bertemulah dengan penciptamu. Lalu kau akan turun kembali sebagai air yang murni dan baik.”

Namun air tidak mau naik ke langit, air belum ingin bertemu penciptanya. Air tidak akan berubah menjadi hujan. Murni ataupun tidak, baik ataupun tidak. Air hanyalah air. Air yang sedang melakukan perjalanan.

 

dkv~

Depok, 

Agustus 2020

Komentar

Postingan Populer