A DUSK TALK
Seiring dengan langit yang semakin gelap tanda malam
akan datang, begitu juga dengan atmosfir di antara sepasang manusia yang duduk
bersisian di bangku taman itu. Entah apa yang ada di kepala mereka, tak ada
kata di antara mereka, hanya tangan yang saling berkaitan dan sepasang mata
yang saling menatap mencari kejujuran atas masing-masing pemiliknya.
“ini udah yang keberapa kali kamu kayak gini?”
akhirnya yang lebih muda lebih dahulu membuka suara.
“sumpah, aku sayang banget sama kamu. tolong kamu
percaya apapun alesan aku, ya!” si yang lebih tua menjawab tanpa berani menatap
si lawan bicara.
“ure not
answering my question, Bi! Apa sih susahnya jujur sama aku?” suara si
yang lebih muda terdengar bergetar, berusaha sekuat tenaga ia menahan tangis. Tapi
ia sudah bertekad untuk menyelesaikan masalah ini secepat yang ia bisa. Ia sudah
lelah bertanya-tanya dalam hati. Dengan usaha terakhir ia melanjutkan, “Kamu
tau kan, dengan kamu kayak gini tuh malah tambah bikin aku sakit! Dan harusnya
di antara semua orang, kamu yang paling tau kalo aku gak suka banget diboongin
apapun alesannya.”
Si yang lebih tua mengeratkan genggaman tangannya ke
yang lebih muda, berusaha mengumpulkan kekuatan sekaligus berharap bisa
menyalurkan rasa sayangnya melalui sentuhan ke si pemuda. “Aku bener-bener tau
kalo aku salah, tapi plis aku gak bisa banget kehilangan kamu dengan cara yang
kayak gini. Aku baru sadar kalo ternyata aku butuh kamu.”
Butuh beberapa detakan jantung hingga si yang lebih muda
menjawab, “Aku butuh waktu, Bi. Aku butuh waktu buat semua ini, sekarang yang
aku rasain cuma sedih dan takut. Dan aku gamau diskusi sama kamu dalam keadaan
kayak gini.”
Si yang lebih tua hanya menatap bisa menatap punggung si yang lebih muda saat yang ditatap berjalan menjauhinya, ia ingin mengejarnya sungguh, namun rasanya ia belum siap menjelaskan semuanya, alasan kenapa ia berbohong, alasan kenapa ia hilang timbul selama beberapa hari belakangan, alasan kenapa ia tidak bisa dihubungi berhari-hari. Ia belum siap melihat tatapan sedih dari mata si yang lebih muda apabila ia menceritakan semuanya. Ia belum siap menghabiskan 1 bulan terakhirnya dengan rasa kasihan dari orang yang paling ia pedulikan itu. Dan, yang paling membuat ia tak siap adalah membayangkan orang yang paling ia sayangi harus menangis di pusaranya tanpa ia ada di sana memeluknya.
September, 21'
dkv.
Komentar
Posting Komentar