H O (M/P) E

Malam itu si wanita menyesap kopi hitamnya sambil memandang ke luar jendela yang menyajikan pemandangan kota Bogor sehabis hujan. Biasanya ia tidak suka kopi pahit, namun kali ini ia menghindari es moccacino yang menjadi pesanan rutinnya setiap ke kedai kopi. Kedai kopi langganannya itu memang terletak di lantai kedua sebuah ruko di pinggir jalan, sehingga yang ada di dalam dapat melihat keluar tanpa dipandang balik dari luar. Di depan wanita itu terdapat laptop dengan mode sleep, itu hanya digunakannya agar ia terlihat sedang mengerjakan sesuatu, padahal entah kemana pikiran si wanita itu. Pikirannya tertarik ke masa sekitar dua tahun lalu.

Ia tak sendiri sore itu, di depannya ada pria yang telah mengisi kesehariannya selama beberapa bulan belakang. Si pria sibuk dengan gawai-gawainya. Sementara si wanita tenggelam dalam novel dari penulis kesayangannya. Ia menunduk menekuni novel itu hingga sebagian wajahnya tertutup rambut yang lepas dari ikatan asal.

“serius amat sih? Tadi mah sendiri aja ke sininya, ngapain ngajak gua kalo akhirnya lu asik sendiri!” si pria akhirnya mengeluarkan protesnya, tak tahan merasa diacuhkan.

“Duuhh tapi lagi seru banget nih! Lunya juga dari tadi malah pushrank, guenya gak diajak ngobrol, gabut lah gue mending baca buku!” Si wanita merasa terganggu kegiatannya, namun ia akhirnya meletakkan novelnya di atas meja, menyelipkan selembar kertas di halaman terakhir yang ia baca.

Si pria merasa puas dengan tindakan si wanita, setelah merasa yakin mendapatkan perhatian penuh dari si lawan bicara tiba-tiba terlintas sebuah pertanyaan dalam benaknya “Eh, kalo kita gak temenan lagi, lu sedih gak?”

Mendengar pertanyaan aneh tersebut si wanita mengerutkan keningnya, “What a question ya bang! Ngapa dah lu tiba-tiba nanyain begituan?” si wanita belum menjawab secara gamblang, ia masih menduga-duga arah pembicaraan si pria. Karena tidak biasanya si pria membicarakan masalah hati dan emosi antara mereka.

“Yaelah jawab aja sih, kan ini masih ‘kalo’. ‘Kalo’ kita gak temenan lagi lu sedih gak? Bukan karena kita sibuk masing-masing gitu ya, tapi misalnya karena kita berantemin suatu masalah gitu. Lu sedih gak?” Si pria benar-benar penasaran akan jawaban dari so called sahabatnya itu.

Setelah beberapa menit (sok) berpikir, si wanita menyesap es moccacino pesanannya lalu menjawab, “Ya sedih lah! Masa gak sedih kehilangan temen. But trust me it wont happen, we’re gonna stick together until u die. Soalnya abis lu mati gua bakalan cari temen baru yang lebih bisa berguna daripada lu!” si wanita berusaha bercanda lalu melempar gumpalan tissue ke arah si pria. Ia merasa tak nyaman dengan pembicaraan ini. Membuatnya merasa ada hal buruk yang akan  terjadi di antara mereka, ia tidak suka perasaan itu. Ia berusaha sebisa mungkin mengenyahkannya. “Udah ah, ngapa jadi mellow dah. Selesaiin buru makalah lu, gua udah ngantuk mau pulang kosan.” Tanpa si wanita sangka itu menjadi kunjungan terakhir mereka ke kedai kopi langganannya itu.

Sentuhan lembut di bahu menyadarkan si wanita dari lamunannya. Seorang pramusaji berdiri di sebelah kursinya, mengabarkan bahwa kedai kopi tersebut sudah mau tutup, ternyata jam operasionalnya diperpendek karena masa berlaku PPKM. Akhirnya si wanita membereskan barang-barangnya, menaruh beberapa lembar rupiah sebagai uang tip, dan mulai berjalan menjauhi kedai kopi itu. Orang yang ia harapkan kehadirannya di kedai kopi yang sama dengan dua tahun lalu ternyata tidak datang hari ini, ia akan mencobanya lagi besok, besok lagi, dan besoknya lagi. Ia mengeratkan jaket untuk menghindari hawa dingin kota Bogor sehabis hujan dan menyetop taksi pertama yang lewat di depannya. Ia pulang, dengan perasaan yang sama, dengan rasa kosong yang sama, dengan sedih yang sama dengan dua tahun lalu. She’s going to her house, but she’s not going home. Because her supposed to be home isn’t belong to her anymore.


September, 21'

dkv.

Komentar

Postingan Populer