SATE KELINCI DAN MILLO HANGAT
Pemandangan rintik
hujan di jendela mobil terasa lebih menarik daripada manusia yang duduk di
sebelahnya, yang sedari tadi fokus di balik kemudi Honda Civic kesayangan. Sentuhan
pada paha kanannya membuatnya menoleh ke arah pria di sebelahnya. Si pria
melempar senyum yang kemudian ia balas dengan seadanya. Ia sedang tak semangat berbasa-basi.
Ia sedang tak ingin mengobrol atau meributkan hal-hal tidak penting seperti
yang biasa ia lakukan dengan sahabatnya itu. Ia mengembalikan netranya ke arah
jalan di depannya, menonton pengendara motor berebut di jalanan kota Bogor yang
padat pada sore hari. Ia baru memusatkan seluruh perhatiannya ketika ia
menyadari si pria mengarahkan mobilnya ke arah jalan tol, padahal arah rumahnya
berlawanan dengan itu.
“Ih mau kemanaa? Lu gak
lupa jalan ke rumah gua kan? Katanya udah janji mau nganterin gue pulang kok
malah ke sini sih, ini malah mau ke mana coba?” rentetan pertanyaan darinya
hanya dibalas senyuman lebar dari si pria hingga memperlihatkan gusinya. “Yeh,
ditanya malah cengar-cengir. Ini mau ke mana si? Gatau jalanan macet mampus
gini apa?”
“hehehe.. puncak yuk! Kayaknya
lu lagi bete deh. Dari tadi diem aja, diajak ngomong malah ngeliatin jendela
terus, guenya malah dicuekin. Lagi kenapa si?” si pria menjawab sambil tetap
fokus memanuver mobilnya agar tidak menyenggol pengendara ojol yang berusaha
menyalip mobilnya di tengah kemacetan.
“Sumpah! Mau ngapain ke
puncak? Ini macet banget tau gak? Bisa-bisa malem baru nyampe atas. Katanya lu
mau malmingan sama mbak pacar? Gak akan sempet kalo kita ke puncak dulu gila!” memang
tadi si pria sempat bercerita bahwa ia diajak mencoba dessert di toko dekat
kampus.
Si pria hanya tersenyum
lalu menepuk paha si lawan bicara, “udeh gapapa, santai aja! Masa sohib gua
lagi bete gini guanya malah malmingan. Mendingan gua temenin lu ke puncak terus
mam sate kelinci sama mimi millo anget, katanya lu lagi kangen puncak kan?”
Kata-kata ajaib ‘sate
kelinci’ membuat ia akhirnya mengiyakan ajakan sahabatnya itu. Sulit untuk
menolak godaan sate kelinci dan millo anget di tengah dinginnya udara puncak di
malam hari. Semua itu merupakan paduan yang cocok untuk meredakan
pikiran-pikiran yang akhir-akhir ini memang sedang memenuhi otaknya. “Oke deh! Sebenernya
gua gak bete-bete banget sih, tapi kalo lu maksa boleh lah ayok kita ke puncak.
Hehehe” kemudian dengan cepat ia menambahkan, “tapi kalo lu sampe berantem sama
mbak pacar jangan salahin gue ya! Apalagi sampe ngadu nangis-nangis, gak akan
gue ladenin!”
“Gampang lah itu maah! Berantem
tinggal putus susah amat” si pria menjawab dan tersenyum puas karena akhirnya
ia berhasil meyakinkan sahabatnya itu untuk berganti destinasi dan menunda perjalanan
pulang.
“Hush! Ngaco lu kalo
ngomong!” omelnya sambil tangannya menyalakan radio mobil dan mencari frekuensi
yang ia inginkan. Memang mulutnya saja yang mengomel, dalam hatinya ia senang. Ia
senang sahabatnya itu masih menaruh perhatian lebih padanya. Tau kapan ia
sedang banyak pikiran, tau saat ia sedang membutuhkan sweet escape, bahkan
sahabatnya ingat hal-hal yang bisa membuatnya sejenak melupakan
serangga-serangga bising yang ada di kepalanya. Ia senang sahabatnya
mengorbankan salah satu agenda malam minggu dengan mbak pacar untuk menemaninya
makan sate kelinci. Memang hanya itu yang bisa ia dapatkan, ia puas dengan hal
itu. Ia tidak bisa dan tidak boleh meminta hal yang lebih jauh dari itu. Titel ‘sahabat’
yang terlanjur melekat di antara mereka menahan hatinya untuk mengambil langkah
yang lebih jauh dari sekedar sate kelinci dan millo hangat di salah satu malam
minggu.
September, 21’
dkv.
Komentar
Posting Komentar