RAHASIA HATI
Si wanita berkali-kali melirik jam yang ada di pergelangan tangan kanannya, mengira-ngira berapa lama lagi orang yang ditunggunya akan datang. Sudah lebih dari separuh jam ia duduk sendiri di halte.
Gelapnya langit dan
rintik hujan yang mulai turun menambah rasa cemas yang sedari tadi sudah ia
rasakan. Kabar terakhir yang ia dengar dari si pria juga masih simpang siur, si
pria tidak memberikan kepastian.
Berharap bisa membunuh
waktu, ia merapikan tasnya, memasukan segala macam tentengan ke dalam tas besar
agar tidak tercecer. Saat ia hampir memutuskan untuk memesan ojek online, ia
melihat Honda civic berwarna putih merapat dan berhenti tepat di depannya.
“ayo cepet masuk, macet
nih!” si pria teriak memanggil dari balik kemudi setelah menurunkan kaca mobil.
“ih gua kira lu jemput
gua bawa si harem, percuma aja gua ketar ketir lu bakal keujanan. Tau lu bawa
si ciput mah gua tadi jajan lumpia basah dulu di stasiun!” si wanita langung
mengomel begitu ia mendaratkan pantatnya di kursi penumpang.
Si pria hanya menoleh,
ia sangat terbiasa dengan omelan dari wanita yang duduk di sebelahnya itu. “si harem
lagi masuk klinik dari kemaren belum sempet gua jemput, dan karena gua tau
bentar lagi hujan makanya gua bawa si ciput.” Si harem adalah sebutan untuk
motor Honda CBR250RR merahnya, ‘harem’ adalah susunan huruf yang dibalik dari
kata merah. Sedangkan si ciput adalah sebutan untuk civic putih yang
akhir-akhir ini menemaninya bepergian. “Lagian harusnya lu makasih kek sama
gua, macet banget ya anjir gua rela-relain macet-macetan buat jemput lu” si
pria balas mengomel.
Si wanita hanya tertawa
mendengar omelan sahabatnya itu, ia mengeluarkan teh kemasan dari dalam tasnya
dan menyodorkan ke depan wajah si pria, “nih nih minum dulu yaampun kasian
banget temen gue! Capek ya? Tadi macet, iya? Udah ini buruan sedot dulu biar
adem kepala lu, biar gak marah-marah terus. Cepetan keburu pegel ini tangan gua
megangin botolnya!”
“Gua balikan sama si
mbak loh! Gua kan udah janji lu akan jadi orang pertama yang gua kabarin apapun
keputusan gua. So.. this is my decision hehehe” si pria dengan hati-hati menyampaikan
kabar setelah ia menerima suapan minum dari temannya.
Si wanita bingung
bagaimana ia harus bereaksi atas informasi yang baru saja ia terima. “well..
good for you, then.” Ia merapikan botol minum dan menaruhnya ke dalam tas,
sebisa mungkin menutupi rasa gugupnya.
Si pria menoleh, ia
bingung. Sahabatnya, yang biasanya merespon segala sesuatu dengan rentetan
paragraf kini hanya merespon dengan satu kalimat basa basi seadanya. “Lah? Gitu
doang respon lu? Komentar apa kek! Biasanya lu nyerocos panjang lebar kalo menyangkut
urusan gua sama si mbak?”
“hehee, gatau ah gua
mau respon gimana. Lagi capek banget nih gua. Kan gua udah bilang apapun
keputusan yang lu pilih ya gua manut aja” si wanita tidak menyangka sahabatnya
akan menyadari perubahan moodnya, biasanya si pria tidak sepeka ini.
Mendengar jawaban itu
si pria mengambil jaketnya yang ada di kursi belakang untuk diberikan ke
sahabatnya itu. “Yaudah kalo lu capek tidur aja deh! Ntar kalo udah sampe gua
bangunin. Nih, jaketnya dipake buat selimutan biar lu gak masuk angin hahahaha”
Si wanita terkekeh
pelan menanggapi perhatian yang diberikan oleh si pria, “hehe makasih ya! Tolong
nyalain dong musiknya biar gak sepi.” Ia membenarkan duduknya sampai
mendapatkan posisi ternyaman, kemudian menarik jaket hitam milik si pria sampai
menutupi separuh tubuhnya. Tidak, meskipun benar ia memang lelah, tapi ia tidak
ingin tidur. Ia hanya menghindari percakapan yang ia yakini akan membuat
moodnya bertambah buruk. Ia memilih memosisikan dirinya menghadap jendela dan
pura-pura memejamkan mata.
Sebenarnya si pria
masih ingin membahas lebih lanjut tentang kabar terbaru dengan pacarnya, tapi
melihat raut muka dari sahabatnya itu akhirnya ia memilih menunda waktu. Masih ada
hari besok, pikirnya.
Melihat posisi
sahabatnya, ia tau sebenarnya wanita itu tidak tidur. Ia paham betul sahabatnya
sangat menghindari tidur di mobil, karena ia akan merasa pusing saat bangun
nanti. Ia yakin betul bahwa sahabatnya merahasiakan sesuatu, ada hal yang
ditutup-tutupi olehnya, tapi ia tidak tau apa, ia tidak yakin tentang hal apa.
Ia memutuskan untuk
mengenyahkan pikiran-pikiran dalam otaknya dan menyibukkan diri memilih saluran
radio yang memutar musik. Ia kemudian melanjutkan memanuver mobilnya di tengah
kemacetan dan berharap esok akan bisa mendapat jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalanya.
dkv.
Oct, 21'
Komentar
Posting Komentar